Selamat Datang Fase Ke-3!

 Hai Eca! Selamat datang di fase ketiga dalam hidupmu. Sudahkan kamu memberi ucapan terimakasih ke dirimu tigapuluh tahun yang lalu?

Dear Eca di Fase Nol...

Dirimu saat itu lahir tepat di tanggal 23 September 1992, satu tahun lebih satu hari setelah orangtuamu merayakan ulangtahun pernikahannya yang pertama. Kamu “menganggu” masa-masa romantis kedua orangtuamu, dengan meminta mamamu naik becak untuk ke rumah sakit -saat itu papamu masih perjalanan pulang setelah mencari nafkah.

Layaknya setiap manusia yang lahir di dunia, pasti merepotkan kedua orangtuanya, karena bagimu dunia saat itu hanyalah mama papamu. Kamu belum mengenal makna dunia sesungguhnya. Walau repot kedua orangtuamu itu tersenyum sangat puas saat mendengar tangisanmu pertama kali. Duh! bukan assalamualaikum gitu, malah teriak-teriak hehe

Perlahan dirimu pun bertumbuh. Dari yang merangkak hingga sukanya lari terus menerus, dari yang sendiri hingga memiliki adik yang baru kamu dekat saat di fase ketiga ini. Duh.. duh.. kamu penuh perjuangan yaa untuk menjadi seorang anak pertama. Terimakasih sekali saat itu kamu tidak berhenti untuk tersenyum ke sekitarmu.

Tanpamu saat itu, mungkin saat ini aku tidak tau bagaimana caranya bertahan dalam kebingungan tanpa role model. Tetap tertawa hingga tiba-tiba tidak sadar, bahwa kamu sudah melewati masa-masa itu. Terimakasih lagi atas pemupukan rasa itu yang akhirnya aku petik buahnya saat ini.

Dear Eca di Fase Pertama...

Fase di mana kamu jatuh dalam kegelapan. Masa-masa remajamu dipakai untuk bermain, berkenalan dengan lawan jenis, dan belajar secukupnya saja. Toh, koin keberuntunganmu saat itu selalu berada di sisimu hehe..

Semua kebodohanmu saat itu hanya didasarkan untuk dapat dianggap oleh teman-temanmu yang menjadi bintang di masa itu. Kamu itu berada di fase dibully! Namun kamu tidak ingin mengiyakan kondisi itu, berpura-pura baik-baik saja.

Kamu pernah jadi korban MLM dari orang yang kamu anggap sahabat saat itu. Bodohnya kamu sampai menggadaikan ijazah SMA dan STNK motor papahmu, untungnya cepat sadar itu keliru. Lalu inisiatif untuk tidak meneruskan lingkaran MLM itu ke teman sekitarmu. Walau harus rugi sekian juta rupiah dari tabunganmu untuk menebus yang tergadaikan itu.

Kamu juga pernah menangis di telepon karena diputusin oleh pacarmu. Hahaha.. tolol banget dah!

Namun di fase ini ada hal baiknya juga. Penerima nilai sempurna 100 untuk ujian UAN di bidang matematika, dirimu juga pernah berani mengikut Kejuaran Nasional Lomba Bridge. Hahaha masa-masa campur aduk yaa!

Aku pun sangat-sangat berterimakasih padamu saat itu. Kamu masih bisa berpikir logis, dingin, dan menahan nafsu saat kesempatan berbuat kejahatan itu ada. Yaa sekiranya jatuh dalam kegelapan tetapi kakimu masih terikat tali untuk tidak sepenuhnya tenggelam.

Dear Eca di Fase Kedua...

Fase di mana kamu sangat berani mengeksplor hal-hal berbau organisasi dan passion! Hingga kamu tidak mengenal dirimu sendiri. Kamu terlalu mementingkan kebutuhan orang lain, padahal kamu juga butuh dibantu.

Kuliahmu berantakan, tetapi alhamdulillah masih bisa selesai dengan nilai IPK yang di atas rata-rata walaupun tidak sampai standar dari banyak orang.

Baru menemukan passionmu di fase ini. Lalu dengan cerobohnya kamu memutuskan untuk serius dengan passionmu, padahal belum divalidasi apakah passion ini akan menyelamatkanmu di fase-fase selanjutnya. Nekat!

Sampai-sampai kamu “berantem” dengan kedua orangtuamu, yang berakhir menangis bersama di meja makan. Tangisan penuh dengan rasa maaf di masing-masing aktor di sana, dirimu, papahmu, dan mamahmu.

Lalu ada juga momen ditolak ajakan menikahmu, juga menolak ajakan orang untuk menikah denganmu haha, walaupun begitu akhirnya kamu menikah dengan orang yang ingin kamu nikahin dan ingin nikah denganmu. Ketuaku saat kepanitian PPSMB Universitas haha, tidak jauh-jauh ternyataaa.

Di fase ini pun kamu dengan cepatnya berubah statusnya dari bujang menjadi suami lalu menjadi seorang Ayah -baca: Baba. Durasi belajarmu hanya satu tahun dalam setiap pergantian status. Saluut kamu mudah beradaptasi walaupun buanyak kesalahan di sana sini.

Yaa begitulah fase di mana masa rawan, malah kamu asik melakukan kesalahan. Namun dirimu di fase nol dan fase pertama sudah membentuk jiwa mudah beradaptasi. Sehingga dirimu selalu menyiapkan mitigasinya walaupun tidak semua rancangan berjalan dengan harapan hehe

Terimakasiih lagi untuk dirimu di fase kedua ini. Telah bertahan dalam setiap badai, telah mau menjadi dewasa. Terimakasiiih

Dear Eca di Fase Ketiga...

Be nice fase ketiga! Semoga semua kejadian yang sudah terancang oleh Allah di fase ketiga ini dapat berjalan tanpa menjauh dari imanmu kepada Allah.

Kalau kata istrimu, “Selamat datang di fase akan dipanggil Pak Eca dengan validasi umur.”

Pesanku.. pikirkan dengan lebih matang di setiap keputusan yang akan diambil. Keputusanmu akan membawa masa depan istri dan anak-anakmu, bukan hanya kamu.

Selamat berselancar di petualangan fase ketiga. Pasti lebih seru, pasti lebih bermakna, dan tentunya pasti lebih mendekat dengan Allah

Salam buat Eca yang mulai memberanikan diri kembali untuk menulis! Wahai nama kecilku, percayalah kamu akan terus bertumbuh dengan baik, terbukti dengan fase-fase sebelumnya yang telah berhasil menjadikanmu saat ini.

Teruslah mengumpulkan harta karun pengalamanmu untuk dapat kamu bagikan hal-hal baiknya pada keturunanmu :)

 





Komentar